Limbal Relaxing Incision untuk Koreksi Astigmat Kornea.
Pada 20 Desember 2025, Ophthalindo memperkenalkan OphthalInsight Volume 1, webinar edukatif yang menandai awal rangkaian pembelajaran klinis bagi dokter mata di seluruh Indonesia. Episode perdana ini mengangkat tema “Limbal Relaxing Incision (LRI) Fundamental: Principles, Application, and Clinical Outcomes”, menyoroti teknik koreksi astigmat yang aplikatif dalam praktik operasi katarak refraktif modern.
OphthalInsight sebagai Forum Edukasi
Webinar ini dirancang sebagai platform pembelajaran berkelanjutan bagi dokter mata. Peserta memperoleh wawasan klinis terbaru, berdiskusi tentang strategi koreksi astigmat, dan menyesuaikan praktik mereka dengan perkembangan terkini. Webinar ini diikuti oleh dokter mata dari seluruh Indonesia, memberikan kesempatan berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman klinis, sekaligus membentuk komunitas profesional yang saling mendukung. Forum ini juga mendorong kolaborasi antar dokter mata dari berbagai wilayah, membangun jaringan yang saling berbagi pengalaman nyata. Kerja sama dengan PERDAMI memastikan standar akademik tinggi dan bersertifikat SKP, menambah nilai profesional bagi peserta.

Astigmat Kornea dan Total Astigmat
Astigmat kornea terjadi ketika cahaya tidak difokuskan pada satu titik di retina, melainkan membentuk dua titik fokus pada meridian yang saling tegak lurus. Dalam konteks operasi katarak, dokter mata juga mempertimbangkan Total Astigmat, gabungan antara astigmat kornea dan astigmat lensa. Pemahaman Total Astigmat sangat penting untuk merencanakan koreksi yang akurat. Misalnya, pasien dengan Total Astigmat tinggi tetapi toric IOL tidak tersedia dapat memanfaatkan LRI untuk mencapai hasil refraksi optimal. Dengan pendekatan ini, target refraksi pascaoperasi dapat dicapai lebih presisi, meningkatkan kualitas visual pasien.
Baca juga: MANI Pisau Bedah Oftalmik Jepang: Presisi yang Menjadi Standar Bedah Mata
Limbal Relaxing Incision: Prinsip dan Praktik
Limbal Relaxing Incision merupakan teknik insisi di area limbus yang bertujuan merelaksasi kornea sehingga terjadi perubahan kurvatur. Teknik ini menjadi alternatif penting ketika toric IOL terbatas atau insisi pada kornea lainnya tidak memungkinkan. Setiap insisi memberikan efek berbeda tergantung kedalaman, panjang, dan orientasinya. Prinsip LRI meliputi: respon jaringan terhadap kedalaman dan panjang insisi, arah aksi tegak lurus terhadap lokasi insisi, dan efek seperti menambahkan “jaringan” untuk mengubah kurvatur.
Keberhasilan teknik ini dipengaruhi oleh akurasi insisi, penyembuhan luka, dan usia pasien. dr. Devy C. Mandagi, Sp.M menekankan bahwa metode koreksi harus disesuaikan dengan kondisi pasien, aksis astigmat, dan target refraksi yang diharapkan agar mencapai spherical equivalent ±0.50.
Sebagai contoh, pasien dengan astigmat meridian steep dapat menerima insisi berpasangan untuk meningkatkan efek koreksi. Panjang dan kedalaman insisi disesuaikan dengan tingkat astigmat, sehingga dokter dapat menyesuaikan prosedur secara individual dan aman.

Pembelajaran Interaktif dan Penanganan Pasien Astigmat
Webinar dipandu oleh dr. Ludwig M. Tjokrovonco, Sp.M, FICS dan menghadirkan sesi presentasi oleh dr. Devy C. Mandagi. Diskusi interaktif memungkinkan peserta bertanya dan berbagi pengalaman mengenai penanganan pasien astigmat. Format naratif ini membuat sesi lebih hidup, memungkinkan dokter memperoleh insight praktis yang langsung dapat diterapkan dalam praktik klinis.
Selain itu, webinar menekankan evaluasi praoperasi, memahami anatomi kornea dan lensa, serta menentukan strategi koreksi astigmat terbaik. Langkah ini membantu dokter memprediksi hasil visual dan meminimalkan risiko komplikasi, sekaligus memperkuat komunitas profesional yang saling mendukung.
OphthalInsight Volume 1 menegaskan komitmen Ophthalindo untuk mendukung pendidikan berkelanjutan bagi dokter mata di Indonesia. Nantikan kembali OphthalInsight dengan episode terbaru, yang akan menghadirkan topik klinis terkini dan diskusi kasus nyata.
“Belajar tidak memiliki batasan; ilmu berkembang seiring pengalaman dan praktik klinis.” ***
